berapa lama aku harus merindu?
jika hanya sebatas senja, yang sebentar lagi menunggu gelap tanpa mentari
jika hanya sebatas pelangi, yang sebentar lagi memudar pergi entah kemana
jika hanya sebatas bintang, yang indah namun tak bisa ku raih
berapa lama aku harus merindu?
sebentar lagi hujan akan datang, kau dimana?
rinai hujan yang sedari tadi menemaniku tapi kamu tak kunjung tiba
hanya awan redup saja, tanpa kau
berapa lama aku harus merindu?
jangan membuatku lelah menanti
lekaslah kembali, beri aku pengertianmu
aku akan mencoba bertahan sekali lagi.
Senin, 09 Januari 2017
Minggu, 08 Januari 2017
Aku Pamit
aku takkan menunggu lagi,
akan ku hentikan rindu yang selama ini hidup dalam ekspektasiku
semua terlihat semu, aku terlalu senyap dalam duka sampai nuraniku kelu
disaat itu aku terlalu memaksa, dan sekarang aku menyerah
takkan ku paksakan genggaman ini,
kamu tetap akan menjadi kamu, takkan menjadi kita
kau masih mampu manatapkan tidak dengan aku
tahukah kau betapa rapuhnya aku
aku pamit, atas seluruh rindu yang menggebu
aku yang begitu menyedihkan, hanya mampu teriris masa
kesalahanku yang mengaku mampu merindu dalam kesendirian
aku pamit.
Takkan Ku Paksakan Genggamanmu
untuk apa hadir bila hanya sekedar menyapa dan pergi
untuk apa merindu bila hanya sekedar menyentuh abstraknya rasa
aku salah mengartikanmu, ekspektasiku berada dalam bayang semu
aku berhenti berharap, aku berhenti merindu, dan aku berhenti mencinta
ada kalanya lelahku di tinggal keterlaluan,
rindu itu tidak benar adanya,
terdiamku di sudut penantian.
takkan ku paksakan genggamanku,
izinkan aku hidup lebih baik, tanpa ada kisah kita
karena saat kau tak menghirau, aku tak dapat melihat sinar mentari, begitu kelu
kesadaranku bahwa kamu tetap akan menjadi kamu, bukan kita
ku izinkan kau pergi lebih dulu dalam cerita ini,
meski hancur namun aku akan bertahan
aku harus terbiasa, harus mampu tanpamu.
untuk apa merindu bila hanya sekedar menyentuh abstraknya rasa
aku salah mengartikanmu, ekspektasiku berada dalam bayang semu
aku berhenti berharap, aku berhenti merindu, dan aku berhenti mencinta
ada kalanya lelahku di tinggal keterlaluan,
rindu itu tidak benar adanya,
terdiamku di sudut penantian.
takkan ku paksakan genggamanku,
izinkan aku hidup lebih baik, tanpa ada kisah kita
karena saat kau tak menghirau, aku tak dapat melihat sinar mentari, begitu kelu
kesadaranku bahwa kamu tetap akan menjadi kamu, bukan kita
ku izinkan kau pergi lebih dulu dalam cerita ini,
meski hancur namun aku akan bertahan
aku harus terbiasa, harus mampu tanpamu.
Bagitu dalamnya aku memasuki alam khayalku tentangmu. Tak usai disitu saja, begitu banyak tanya tentangmu dalam benakku. Aku begitu bingung, cinta memang membingungkan. Kadang aku kuat untuk mempertahankan perasaanku, kuatku karena aku ingin kamu juga sepertiku, kuat dalam mempertahankan perasaanmu untukku. Kadang pula aku begitu rapuh, rapuh yang begitu menjadi jadi saat aku tak bisa memilikimu, bahkan untuk menyapa saja aku masih bingung memulainya darimana. Sepengecutkah itu aku? Cinta dalam diam itu membuatku bingung. Tapi aku tak ingin kamu mengetahui dalamnya perasaanku untukmu, karena aku hanya ingin kamu mengetahuinya saat kamu benar benar sudah menjadi milikku, sepenuhnya. Karena hubungan terarah yang halal itu akan membuat rasaku dan rasamu pasti tanpa pemisalan. Biarkanlah untuk saat ini kita tidak usah menyapa, cukup kita menyatu dalam doa hingga tiba saatnya penantian kita menjadikan kita bersama tidak hanya dalam doa tapi juga dalam setiap masa, karena kita akan menghabiskan waktu bersama dalam sakralnya ijab kabul.
Keharusannku Menjauh
Keharusannku
menjauh............................................
Ketika itu segala sesuatu berjalan bersama, hingga di ujung
lelappun kita saling menyapa sebelum mimpi memisahkan raga,,,
Kenyamanan itu datang begitu tenang dan damai, seakan tak
ada yang dapat mengecohkannya, tak sang malam apalagi mentari. Hanyut dalam
melodi kebahagiaan dan ketenagan jiwa. Semua terjadi begitu saja, tanpa
strategi.
Bermula kebetulan, semua serba kebetulan. Kamu ada,
menjalin semua bersama, tawa, cerita,
air mata, itu semua terjadi saat itu.
Tapi itu cerita dulu, itu dulu jauh hari sebelum saat
sekarang. Waktu begitu tajam mengiris ceritaku, cerita kita. Sampai saat ini
kisah itu masih begitu membekas, tak terlewat satu baitpun, tersusun indah di
catatan hati.
Kesalahan yang mengharuskanku menjauh. Maaf bila kisah dulu
membuat kepiluan dihatimu. Mungkin hatimu begitu perih dan aku tak mau tau itu.
Dan mungkin kamu begitu pilu sampai kelu untuk sekedar basa-basi.
Jujur, bukan ini yang aku impikan dari dulu. Dan sekarang
aku mulai menutup mata dan membiarkanmu terbang dengan kebahagiaan tanpa peka
dengan kisah dulu.
Dan sekarang aku siap dengan keharusanku menjauh........
Langganan:
Postingan (Atom)